Rabu, 13 September 2023

Kultum: Takwa dan Akhlak yang baik

 

 

Takwa dan Akhlak yang baik

 

Ada sebuah hadist riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mahaj. Dari Abu Hurairah, ia berkata, yang artinya

رَRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

 

Maksud Takwa

Takwa asalanya adalah menjadikan antara seorang hamba dan seseutu yang ditakuti suatu penghalang. Sehingga takwa kepada Allah berarti menjadikan antara hamba dan Allah suatu benteng yang dapat menghalangi dari kemarahan, murka dan siksa Allah. Takwa ini dilakukan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat.

Namun takwa yang sempurna kata Ibnu Rajab Al Hambali adalah dengan mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara syubhat, juga mengerjakan perkara sunnah, dan meninggalkan yang makruh. Inilah derajat takwa yang paling tinggi.

Al Hasan Al Bashri berkata,

 “Orang yang bertakwa adalah mereka yang menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menunaikan berbagai kewajiban.”

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

“Takwa bukanlah hanya dengan puasa di siang hari atau mendirikan shalat malam, atau melakukan kedua-duanya. Namun takwa adalah meninggalkan yang Allah haramkan dan menunaikan yang Allah wajibkan. Siapa yang setelah itu dianugerahkan kebaikan, maka itu adalah kebaikan pada kebaikan

Tholq bin Habib mengatakan,

“Takwa berarti engkau menjalankan ketaatan pada Allah atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau mengharap pahala dari-Nya. Termasuk dalam takwa pula adalah menjauhi maksiat atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau takut akan siksa-Nya.”

 

Maksud Akhlak yang Baik

Dalam hadits Abu Dzar disebutkan,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

 

Ibnu Rajab mengatakan bahwa berakhlak yang baik termasuk bagian dari takwa. Akhlak disebutkan secara bersendirian karena ingin ditunjukkan pentingnya akhlak. Sebab banyak yang menyangka bahwa takwa hanyalah menunaikan hak Allah tanpa memperhatikan hak sesama. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 454).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Akhlak yang baik (husnul khuluq) ditafsirkan oleh para salaf dengan menyebutkan beberapa contoh.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

 “Akhlak yang baik adalah ramah, dermawan, dan bisa menahan amarah.”

Asy Sya’bi berkata bahwa akhlak yang baik adalah,

“Bersikap dermawan, suka memberi, dan memberi kegembiraan pada orang lain.” Demikianlah Asy Sya’bi, ia gemar melakukan hal itu.

Ibnul Mubarok mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah,

 “Bermuka manis, gemar melakukan kebaikan dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

Imam Ahmad berkata,

 “Akhlak yang baik adalah jangan engkau marah dan cepat naik darah.” Beliau juga berkata, “Berakhlak yang baik adalah bisa menahan amarah di hadapan manusia.”

Ishaq bin Rohuwyah berkata tentang akhlak yang baik,

 “Bermuka manis dan jangan marah.” (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 457-458).

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sifat takwa dan akhlak yang mulia. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

 

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

 

Kemudian dari hadist yang pertama tadi, dikatakan Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.

 

Yang disebabkan karena mulut contohnya Ghibah, kalau dalam bahasa Indonesia namanya menggunjing atau menggosip, dalam bahasa jawa namanya Ngrasani, dalam bahasa inggris namanya Rumour.

Kata seorang ulama tafsir, Masruq, “Ghibah adalah jika engkau membicarakan sesuatu yang jelek pada seseorang. Itu disebut mengghibah atau menggunjingnya. Jika yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak benar ada padanya, maka itu berarti menfitnah (menuduh tanpa bukti).” Demikian pula dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 167).

Ghibah yang terjadi bisa cuma sekedar dengan isyarat. Ada seorang wanita yang menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tatkala wanita itu hendak keluar, ‘Aisyah berisyarat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa wanita tersebut pendek. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

قَدِ

“Engkau telah mengghibahnya.” (HR. Ahmad 6: 136. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Dosa ghibah sudah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Allah Ta’ala memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak mengetahui siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya.(Fathul Qadir, 5: 87)

 

Asy Syaukani rahimahullah kembali menjelaskan, “Dalam ayat di atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar setiap muslim menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah.” (Idem)

Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Allah mengharamkan mengghibahi seseorang ketika hidup sebagaimana Allah mengharamkan memakan daging saudaramu ketika ia telah mati.” (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 168).

Qatadah rahimahullah berkata, “Sebagaimana engkau tidak suka jika mendapati saudarimu dalam keadaan mayit penuh ulat. Engkau tidak suka untuk memakan bangkai semacam itu. Maka sudah sepantasnya engkau tidak mengghibahinya ketika ia masih dalam keadaan hidup.” (Lihat Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 169).

 

Ghibah termasuk dosa karena di akhir ayat disebutkan Allah Maha Menerima Taubat. Artinya, apa yang disebutkan dalam ayat termasuk dalam dosa karena berarti dituntut bertaubat. Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan, lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 129.

Dalam Kunuz Riyadhis Sholihin (18: 164) disebutkan, “Para ulama sepakat akan haramnya ghibah dan ghibah termasuk dosa besar.”

Wallahu a’lam. Moga Allah menjauhkan dari setiap dosa besar termasuk pula perbuatan ghibah. Semoga Allah memberi taufik untuk menjaga lisan ini supaya senantiasa berkata yang baik.

 

 

KULTUM: SUNNAH NABI ITU MEMANG SEHAT

 SUNNAH NABI ITU MEMANG SEHAT

Assalamualaikum WR WB


Innalkhamdalillah, nakhmaduhu wanasta’ngiinuhu, wanastaghfiruh. Wana ‘nguudzubillaahimin syuruuri angfusinaa wamin sayyiaati akmaalinaa. Mayyahdihillahu falaa mudzillalah, wamayyudhlilfalaa haadiyalah. Asyhaduallaa illaa ha illallah wakhdahulaa syariikallah, wa asyhadu anna mukhammadan ‘abduhu warosuuluh, la nabiya ba’da.

Kepada hadirin jamaah shalat subuh yang dirahmati Allah, marilah sebelum dimulai kuliah subuh ini, marilah pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah rahmat dan hidayahnya sehingga pada pagi hari ini kita masih bisa hadir di sini untuk melaksanakan shalat subuh dalam keadaan sehat wal afiat. Dan tak lupa sholawat serta salam selalu kita curahkan pada junjungan nabi besar kita yaitu nabi Muhammad SAW, yang mana selalu kita nanti-nantikan safaatnya sampai akhir jaman nanti, allahumma aamiin.

Kepada jamaah sekalian yang dirahmati Allah, untuk kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan dengan tema: SUNNAH NABI ITU MEMANG SEHAT

 

Ada posting yang menarik di WA tentang hal-hal mengenai kesehatan yang disunahkan oleh nabi tentang keseharian kita:

1. BAB duduk, beresiko tinggi terkena wasir/ambeien. BAB jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

2. Kencing berdiri beresiko prostat dan batu ginjal. Kencing jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

3. Enzim di tangan membantu makanan lebih mudah dicerna. Dibanding dengan besi, kayu, atau plastik, makan dengan tangan lebih bersih, fitrah dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

4. Makan dan minum berdiri dpt mengganggu perncernaan. Dengan duduk lebih santun dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

5. Makan di kursi, masih kurang menyehatkan. Dengan duduk di lantai, tubuh akan membagi perut menjadi 3 ruang: udara, makanan dan air, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

6. Makan buah setelah makan (cuci mulut) kurang bagus bagi lambung, karena ada reaksi asam. Yang sehat adalah makan buah sebelum makan, membantu melicinkan saluran pencernaan dan membuatnya lebih siap, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

7. Tidur tengkurep tidak bagus untuk kesehatan, bahkan itu tidurnya syetan. Tidur menghadap kanan lebih menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

Seorang dokter Eropa berkata: jika semua manusia mengamalkan 3 sunnah saja (sunnah makan, sunnah di Kamar Mandi, dan sunnah tidur), maka harusnya saya berhenti jadi dokter karena tidak ada pasien.

 

 

Kepada jamaah sekalian yang dirahmati Allah. Itulah kenapa bahwa Rasulullah memiliki kesehatan yang baik.

Banyak riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW hanya pernah 2 kali sakit sepanjang 63 tahun hidupnya. Padahal saat itu, kondisi alam jazirah Arab sangat keras, ditambah lagi dengan aktivitas dakwah beliau yang sangat tinggi, dan banyaknya peperangan fisik yang dijalani. Daya tahan fisik dan mental beliau luar biasa. Itu semua karena Rasullullah menghindari hal-hal yang membahayakan kesehatan.

Berikut kami sampaikan beberapa kebiasaan umum yang bertentangan dengan sunnah dan atau membahayakan kesehatan agar kita lebih waspada dan hati-hati. (ada 12 hal)

Sumber: http://cyberdakwah.com/

 

 

 

1. Meniup Makanan atau Minuman yang Masih Panas.

Bertentangan dengan sunnah Nabi SAW, yaitu :

                Hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

 “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas.” (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Imam Nawawi mengatakan, “Larangan bernafas dalam wadah air minum adalah termasuk etika karena dikhawatirkan hal tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau dikhawatirkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang jatuh ke dalamnya dan hal-hal semacam itu.”

Penjelasan ilmiah, Membahayakan kesehatan, yaitu :

Kegiatan meniup makanan atau minuman yang masih panas dapat menyebabkan struktur molekul dalam air akan berubah menjadi zat asam yang membahayakan kesehatan. Sebagaimana yang diketahui, air memiliki nama ilmiah H20. ini berarti di dalam air terdapat 2 buah atom hidrogen dan satu buah atom oksigen yang mana 2 atom hidrogen tersebut terikat dalam satu buah atom oksigen. Dan apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2). Dan apabila karbon dioksida (CO2) bercampur dengan air (H20), akan menjadi senyawa asam karbonat (H2CO3). Zat asam inilah yang berbahaya bila masuk kedalam tubuh kita.

2. Makan Minum Sambil Berdiri.

Bertentangan dengan sunnah Nabi SAW, yaitu :

Bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda : “Janganlah kamu minum sambil berdiri.”

Penjelasan ilmiah, Membahayakan kesehatan, yaitu :

Perlu dikatahui bahwa air  yang masuk  dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler berotot yang bisa membuka dan menutup agar air kemih bisa lewat. Dan ternyata sfringer ini hanya bekerja pada saat kita duduk. Sehingga jika kita minum atau makan sambil berdiri, air yang masuk tubuh akan masuk begitu saja tanpa disaring oleh sfinger langsung menuju kandung kemih. Ketika menuju kandung kemih itulah terjadi pengendapan di saluran sepanjang ureter sehingga dapat menimbulkan penyakit seperti kristal ginjal.

3. Memanaskan Makanan Berkali-kali.

Salah satu kebiasaan ibu-ibu demi melaksanakan prinsip “hemat” atau karena tidak ingin menyia-nyiakan makanan (mubadzir) adalah senang memanaskan makanan berkali-kali terutama sayuran. Ternyata kebiasaan seperti ini tidak baik bagi kesehatan.

Memanaskan makanan berulang kali dapat mengurangi nilai gizi, berubah menjadi racun (sayur bayam), atau dapat juga  memicu munculnya bakteri salmonella yang menular melalui makanan. Bakteri ini menyebabkan keluhan demam, nyeri di perut, muntah, gangguan fungsi darah, sakit di persendian, dan gejala thypus.

4. Minum Minuman Bersoda.

Ini contohnya adalah softdrink. Sebotol softdrink ternyata dapat menguras kadar air dalam tubuh, tidak bisa menghilangkan rasa haus, menghancurkan mineral dalam tubuh, dan mempengaruhi pencernaan, serta dapat memacu timbulnya berbagai macam penyakit. Selain itu, meminum minuman bersoda dapat mengurangi jumlah sperma. Jika Anda terpaksa minum softdrink maka hendaklah diimbangi dengan minum air putih yang banyak sekitar 8-12 gelas tiap sebotol softdrink agar dapat menetralisir keadaan.

5. Menggunakan Minyak Goreng Bekas.

Kebiasaan lain dari ibu-ibu demi melaksanakan prinsip “hemat” adalah menggunakan minyak goreng bekas berkali-kali. Kebiasaan ini sungguh berbahaya karena dapat membahayakan kesehatan.

Perlu diketahui bahwa penggunaan minyak goreng berulang kali pada suhu tinggi akan mengakibatkan hidrolis lemak menjadi asam lemak bebas yang mudah teroksidasi, sehingga minyak menjadi tengik dan membentuk asam lemak trans yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol, penyakit tekanan darah tinggi, dan jantung.

Tak hanya itu, penggunaan minyak bekas berulang juga akan membentuk akrolein yaitu suatu senyawa yang menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan dan menimbulkan batuk. Dan yang tak kalah berbahaya, minyak ini juga bersifat karsinogen sehingga bisa menyebabkan kanker.

Untuk itu, batasilah penggunaan minyak goreng maksimal tiga kali penggorengan.

6. Makan Minum Berlebihan.

Dalam haditsnya Rasulullah saw mengingatkan:

Artinya: “Jauhilah olehmu mengisi perut dengan penuh terhadap makanan dan minuman, sebab mengisi perut dengan penuh akan membahayakan tubuh dan menyebabkan malas shalat.” (H.R.Bukhari)

Dari hadits di atas, jelaslah bahwa mengisi perut secara berlebihan meskipun dengan makanan yang halal, tetap dilarang dan mesti dihindari. Sebab, mengisi perut dengan berlebihan dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit baik jasmani maupun rohani.

7. Menggunakan Botol Bekas Minuman.

Salah satu kebiasaan kita demi prinsip “praktis” adalah menggunakan botol bekas minuman untuk tempat minum tanpa memahami kondisi botol tersebut apakah aman dipakai lagi atau tidak. Untuk itu, sebelum menggunakan botol tersebut, pelajarilah simbol-simbol yang tertera pada botol plastik tersebut.

8. Tidak Membersihkan Kemaluan setelah Kencing.

Bertentangan dengan sunnah Nabi SAW, yaitu :

Sesungguhnya banyak siksa kubur dikarenakan kencing maka bersihkanlah dirimu dari (percikan dan bekas) kencing. (HR. Al Bazzaar dan Ath-Thahawi)

Membahayakan kesehatan, yaitu dapat menyebabkan penyakit kencing batu akibat masih ada sisa-sisa kencing yang tertinggal dan juga bisa menyebabkan penyakit kulit.

9. Kencing Sambil Berdiri.

Dalam hal masalah kencing sambil berdiri para ulama berbeda pendapat, yaitu : Dimakruhkan tanpa ada udzur, diperbolehkan secara mutlak, diperbolehkan jika aman dari percikan, sedangkan jika tidak aman dari percikan, maka hal ini menjadi terlarang.

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, ada yang perlu diketahui bahwa kebanyakan orang yang biasanya kencing berdiri kemudian mereka akan mendirikan shalat, ketika akan ruku’ atau sujud maka terasa ada sesuatu yang keluar dari kemaluannya, itulah sisa air kencing yang tidak habis terpencar ketika kencing sambil berdiri, apabila hal ini terjadi maka shalat yang dikerjakannya tidak sah karena air kencing adalah najis dan salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadats kecil maupun hadats besar.

Dari segi kesehatan, akibat dari adanya sisa air kencing yang tidak habis terpencar ketika kencing sambil berdiri berkemungkinan besar menyebabkan kencing batu. Kenyataan membuktikan bahwa batu karang yang berada dalam ginjal atau kantong seni dan telur zakar adalah disebabkan oleh sisa-sisa air kencing yang tak habis terpencar. Endapan demi endapan akhirnya mengkristal/mengeras seperti batu karang.

10. Memanjangkan Kuku.

Salah satu kebiasaan para wanita adalah memanjangkan kuku. Ini bertentangan dengan sunnah Nabi SAW, yaitu :

 “Hal yang fitrah itu ada lima atau lima hal merupakan fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.”(HR. Al-Bukhari, bab pakaian (5889); Muslim, bab bersuci (257))

Dari segi kesehatan, sesungguhnya mencuci kuku itu tidak membuat kuku itu bersih dari kuman dan kotoran, karena air tidak dapat mencapai bagian bawah kuku. Potonglah kuku maksimal tiap 40 hari sekali. Akan lebih bagus jika dipotong setiap hari Jum’at sesuai sunnah Nabi SAW.

11. Mengonsumsi obat sirup sisa

Masih banyak orang yang suka menyimpan obat sirup yang sudah pernah dibuka untuk dipakai lagi di kemudian hari jika diperlukan tanpa mengetahui batasan waktu diperbolehkan untuk dikonsumsi lagi. Ini tentu berbahaya.

Perlu diketahui bahwa komposisi terbesar dari sediaan sirup adalah air. Nah, karena komposisi terbesar adalah air maka obat sirup akan rentan sekali terkontaminasi oleh mikroba atau jasad renik karena air adalah media yang sesuai untuk pertumbuhan mikroba. Mengingat resiko kontaminasi mikroba ini maka seyogyanya obat sirup tidak disimpan dalam kurun waktu lebih dari 3 bulan (ada yang mengatakan tidak boleh lebih dari satu minggu ada pula yang mengatakan tidak boleh lebih dari satu bulan. Untuk kepastiannya lebih baik tanya kepada dokter atau apoteker yang memberi obat). Masa kadaluwarsa yang tertera pada obat hanya merupakan petunjuk stabilitas obat saat kemasan belum dibuka atau belum digunakan, namun jika obat sudah digunakan maka alangkah baiknya kita tidak mengonsumsi kembali obat yang telah disimpan lama ataupun yang telah berubah aroma, rasa dan warnanya. Untuk menghindari hal tersebut, belilah obat sirup dalam ukuran yang sesuai, jangan yang terlalu besar sehingga anda tidak perlu menyimpannya dalam waktu yang lama.

 

12. Merokok

Salah satu kebiasaan buruk para lelaki adalah merokok. Mungkin dianggap sebagai simbol kejantanan seseorang. Pada hal Islam telah melarangnya dan menghukuminya dengan perbuatan makruh menurut sebagian ulama atau haram menurut sebagian ulama yang lain. Hal itu dikarenakan bahayanya cukup besar tidak hanya bagi perokok sendiri tapi juga orang-orang di sekitarnya, yaitu dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit seperti penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, juga merusak sistem reproduksi, pendeknya merokok merusak seluruh sistem tubuh.

Demikianlah beberapa kebiasaan umum yang bertentangan dengan sunnah dan atau kesehatan yang harus kita hindari atau kita hentikan. Jika belum mampu menghentikan kebiasaan ini minimal dapat menguranginya sedikit demi sedikit.

 

 

 

 

Kultum: Macam-macam puasa sunah

 Macam-macam puasa sunah

Allah Ta’ala telah berfirman :

''Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum, sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan shaum itu adalah benteng (dari api neraka), maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan ‘Aku orang yang sedang shaum’. Dan demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya: Apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabnya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu''. (HR. Al-Bukhari no. 1771 dan Muslim no. 1151)

Adapun macam-macam puasa sunnah beserta keutamaannya masing-masing yaitu :

1. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Baik dilakukan secara berturutan ataupun tidak. Keutamaan puasa romadhon yang diiringi puasa Syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun (HR. Muslim).

2. Puasa Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Yang dimaksud adalah puasa di sembilan hari yang pertama dari bulan ini, tidak termasuk hari yang ke-10. Karena hari ke-10 adalah hari raya kurban dan diharomkan untuk berpuasa.

3. Puasa Hari Arofah
Yaitu puasa pada hari ke-9 bulan Dzuhijjah. Keutamaan: akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.

4. Puasa Muharrom
Yaitu puasa pada bulan Muharrom terutama pada hari Assyuro’. Keutamaannya adalah bahwa puasa di bulan ini adalah puasa yang paling utama setelah puasa bulan Romadhon (HR. Bukhori)

5. Puasa Assyuro’
Hari Assyuro’ adalah hari ke-10 dari bulan Muharrom. Nabi sholallohu ‘alaihi wasssalam memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari Assyuro’ ini dan mengiringinya dengan puasa 1 hari sebelum atau sesudahnhya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya berpuasa pada hari ke-10. Keutamaan: akan dihapus dosa-dosa (kecil) di tahun sebelumnya (HR. Muslim).

6. Puasa Sya’ban
Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Keutamaan: bulan ini adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Robb semesta alam (HR. An-Nasa’i & Abu Daud, hasan).

7. Puasa pada Bulan Harom (bulan yang dihormati)
Yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab. Dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah pada bulan-bulan tersebut termasuk ibadah puasa.

8. Puasa Senin dan Kamis
Namun tidak ada kewajiban mengiringi puasa hari Senin dengan puasa hari Kamis atau sebaliknya. Keduanya merupakan hari di mana amal-amal hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Alloh.

9. Puasa 3 Hari Setiap Bulan
Disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari putih (Ayyaamul Bidh) yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan. Sehingga tidaklah benar anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa puasa pada harai putih adalah puasa dengan hanya memakan nasi putih, telur putih, air putih, dsb.

10. Puasa Dawud
Yaitu puasa sehari dan tidak puasa sehari. Kemudian puasa sehari dan tidak puasa sehari. Keutamaannya adalah karena puasa ini adalah puasa yang paling disukai oleh Alloh (HR. Bukhori-Muslim).

 

Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah

Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154). An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim, “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. ”

Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah diatas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut.[10]

Ketiga: Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan.”[11] Beliaurahimahullah menjelaskan pula, “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.


http://betonlestari.blogspot.com/2013/05/10-macam-puasa-sunnah-beserta.html

 

Kultum: Mukjizat Gerakan Sholat

 

Mukjizat Gerakan Sholat

Assalamualaikum WR WB

Alhamdulilah, alhamdulilah hirobbil ‘alamiin, Wabihi nastainu ala umuridunia waddin, wasolatu wasalamu ala asrofil ambiyai walmursalin, robi sohri sobri wayasirli amri, wahlul ukhdatammilisani yafkohu kouli. Ashaduallah illahaillallah, wa ashaduanna muhammadan abduhu warusulu, ama ba’du.

Kepada hadirin jamaah shalat subuh yang dirahmati Allah, marilah sebelum dimulai kuliah subuh ini, marilah pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah rahmat dan hidayahnya sehingga pada pagi hari ini kita masih bisa hadir di sini untuk melaksanakan shalat subuh dalam keadaan sehat wal afiat, aamiin. Dan tak lupa sholawat serta salam selalu kita curahkan pada junjungan nabi besar kita yaitu nabi Muhammad SAW, yang mana selalu kita nanti-nantikan safaatnya sampai akhir jaman nanti, allahumma aamiin.

Kepada jamaah sekalian yang dirahmati Allah, untuk kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan tentang mukjizat gerakan shalat.

 

 

Ada suatu kisah dari Mahmud bin Rabi’ Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari

Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.

Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, “Sahabatku, engkau tadi belum shalat ”

Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat “gaya” shalat seperti itu.

Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, “Sahabatku,tolong ulangi lagi shalatmu, Engkau tadi belum shalat.”

Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.

Namun seperti “biasanya”, Rasulullah SAW menyuruh orang tersebut mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku ”

“Sahabatku,” kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, “Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma’ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu.”

Kisah dari Mahmud bin Rabi’ Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar “benar” gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, dan khusyuk.

Kekhusukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk. Dalam arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, dengan terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi tidak sempurna, dan jalinan komunikasi dengan Allah menjadi kurang optimal. Bila hal ini dilakukan terus menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar akan kehilangan makna.

 

Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW sarat akan hikmah dan bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar, tumaninah serta istiqamah (konsisten dilakukan).

Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah di awal.
“Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah.”

Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar). Takbir ini dilakukan ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk.

Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa maknanya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.

“Rukuklah dengan tenang (tumaninah).” Ketika rukuk, Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash). Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringat yang terdapat di pungggung, pinggang, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapat terjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata mengharap ke tempat sujud.

“Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak.” Apa maknanya? Saat berdiri dari dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba.

“Selepas itu, sujudlah dengan tenang.” Apa maknanya? Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi.

“Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang.” Apa maknanya? Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrik serta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturan syaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki. Subhanallah!

Masih ada gerakan-gerakan shalat lainnya yang pasti memiliki segudang keutamaan. Semua ini memperlihatkan bahwa shalat adalah anugerah terindah dari Allah SWT bagi hambanya yang beriman.

 

 

Riset atau penelitian-penelitian tentang manfaat gerakan shalat:

Penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Sholat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respons Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Siko Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pascasarjana Universitas Surabaya yang dipertahankanya beberapa waktu lalu.
Salat tahajud ternyata bukan hanya sekadar salat tambahan (sunnah muakkad) tapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis sholat ini menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfositnya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang sedang dihadapi

Penelitian lain dilakukan oleh seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan sholat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.

.http://kisahislami.com/rahasia-gerakan-sholat/


Kultum: Dapat Masalah Malah Bersyukur

 

Dapat Masalah Malah Bersyukur

Dalam Islam, tingkatan menghadapi musibah dan masalah:

1. Marah (tidak terima)
2. Menahan diri/bersabar (hati mungkin masih tidak terima, tetapi menahan diri)
3. Ridha (hati menerima dan lapang dada)
4. BERSYUKUR karena penghapus dosa dan meningkatkan derajat

Ini sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

“Manusia ketika tejadi musibah ada 4 keadaan:  [1]Marah, [ 2] Bersabar [3] Ridha [4] Bersyukur. Inilah keadaan manusia ketika terjadinya musibah.”[1]

Kami Mendapatkan sharing tulisan yang bagus (semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepada penulisnya):

Orang konyol buat masalah…

Orang kerdil memperbesar masalah….

Orang biasa membicarakan masalah….

Orang besar mengatasi masalah…..

Orang bijak bersyukur dengan
masalah….

Orang kreatif melihat peluang dari
masalah….

Orang bertaqwa naik derajat karena
masalah….

Jadi, ga ada masalah dengan “masalah”….

Masalahnya, bagaimana cara kita
menyikapi “masalah”….

Karena hakikatnya, hidup itu rangkaian “masalah” demi “masalah”.

So, Jadikanlah “MASALAH” sebagai “Masa mengenal Allah”.

[selesai kutipan]

Demikianlah ajaran Islam. Mengajarkan bijak menghadapi masalah bahkan bersyukur.

Cobaan dan musibah itu selalu datang dan niat Allah adalah agar membersihkan dosa-dosa kita ketika kita bijak menyikapinya, berkhusnudzan bahkan bisa bersyukur. Sehingga bisa jadi kita menghadap Allah tanpa dosa sama sekali

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[2]
Sumber: dr p basyir

 

KULTUM: SEBUAH RENUNGAN..... "TIDAK ADA PASIEN DATANG KE KLINIK.."

 

SEBUAH RENUNGAN..... "TIDAK ADA PASIEN DATANG KE KLINIK.."


Ada seorang dokter membuka klinik di Tanah Suci (Makkah Mukarramah). Selama 6 bulan praktek, tidak ada seorang pasienpun yang datang untuk berobat. Hingga beliau merasa heran, apakah orang-orang di sini tidak pernah sakit?
Akhirnya beliau temukan jawabannya, dari salah seorang muslim di sana :

Bila kami sakit,
ikhtiar pertama yg kami lakukan ialah shalat dua rakaat, dan memohon kesehatan kpd Allah. In syaa Allaah sembuh dengan ijin
dan kasih sayangNya.

Kalau belum sembuh, Ikhtiar ke-dua. Yaitu baca Al Fatihah/surat2 lain, tiupkan pada air dan minum. Dan alhamdulillaah kami akan sehat. Inilah Ruqyah utk diri sendiri.

Tapi kalau belum sehat juga, kami lakukan ikhtiar yg ke-tiga. Yaitu bersedekah, dengan niat mendapatkan pahala kebaikan, & dijadikan jalan penyembuh sakit kami. In syaa Allah akan sembuh.

Kalau tidak sembuh juga, kami akan tempuh ikhtiar yg ke-empat.
Yaitu banyak2 istighfar, untuk bertaubat. Sebab, Nabi ﺻﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ beritahu kami, bahwa sakit adalah salah satu sebab diampuninya dosa2.

Kalau belum sembuh juga, baru kami lakukan ikhtiar yg ke-lima.
Yaitu minum madu dan habbatussauda'.

Ikhtiyar yg ke-enam yaitu dengan
mengonsumsi makanan herbal, seperti, buah tin, zaitun, kurma, dan lain-lain,
seperti disebut dalam Al Qur'an.
Dan, Alhamdulillah. Laa hawlaa wa laa quwwataa illaa billaah.

Jika belum sembuh, baru kami ikhtiar ke-tujuh yaitu pergi ke dokter muslim yg shalih. In syaa Allah akan diberi kesembuhan dari
Allah SWT. Aamiin..

Wallaahu a'lam..

Kalau di Negara Berkembang, ketika kita sakit :
1. Googling di internet gejala sakit apa ya kira2.
2. Beli obat di apotik, bila sakit berlanjut
3. Datang ke dokter dan minta obat. Kalau belum sembuh juga,
4. Pindah ke dokter lain, dokternya nggak cocok, belum sembuh lagi,
5. Cari informasi temen-temen, obat herbal atau pengobatan alternatif, bila makin parah.
6. Konsultasi ke ustad, kira-kira selama di dunia dosa apa, dan amalan-amalan apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan sakit.

Selanjutnya baru bertaubat kepada Allah atas segala dosa dan khilaf dan berdoa kepada Allah memohon kesembuhan. Itu pada umumnya yaa.....

Makanya bisnis obat-obatan di Negara-Negara Berkembang laku keras, kuliah di kedokteran keren bingiits, obat herbal booming... Nah dari cerita dokter di Mekkah tersebut, kita seharusnya bisa mengambil pelajaran dan bisa
mencontoh penduduk di sana, bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim ketika dihadapkan
pada kondisi sakit. Seorang muslim hendaknya menyandarkan segala kondisinya hanya kepada Allah Ta'ala. Sehingga ketika sakitpun,
ikhtiar utama (mayoritas) yang kita lakukan adalah mendekatkan diri pada Allah melalui shalat, taubat, istighfar, dan do'a. Barulah kemudian ikhtiyar2 yg sifatnya secara 'materi'.

Semoga saudaraku yang kini tengah sakit, segera diberi kesembuhan oleh Allah Ta'ala, semoga menjadi penggugur dosa2nya. Aamiin. Doa sakit yang diajarkan Rasulullah:
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺏَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺫْﻫِﺐِ ﺍﻟﺒَﺎﺱَ، ﺍِﺷْﻒِ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻲ، ﻻَ ﺷِﻔَﺎﺀَ ﺇِﻻَّ
ﺷِﻔَﺎﺅُﻙَ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻻَ ﻳُﻐَﺎﺩِﺭُ ﺳَﻘَﻤًﺎ
Ya Alloh, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah, Engkaulah As-Syafi
(Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit. (HR.
Bukhari 5675 dan Muslim 2191).

Kultum: Empat perkara yang jika diamalkan bisa menghapus dosa seseorang:


 Empat perkara yang jika diamalkan bisa menghapus dosa seseorang:

#1. Taubat nashuha
Allāh berfirman :

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺗُﻮﺑُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮْﺑَﺔً ﻧَﺼُﻮﺣًﺎ ﻋَﺴَﻰٰ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳُﻜَﻔِّﺮَ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻜُﻢْ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allāh dengan taubat nashuha. Semoga Rabb kalian menghapus dosa-dosa kalian.
"(AtTahrim:8)

Taubat yang nashuha adalah taubat yang terpenuhi 3 syarat:
1. Penyesalan yang mendalam
2. Meninggalkan kemaksiatan tersebut
3. Bertekad kuat untuk tidak melakukan di masa yang akan datang

. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain maka hendaklah segera menunaikan hak tersebut dan segera minta dihalalkan.
. Apabila berupa harta, maka segera dikembalikan hartanya.
. Apabila berupa kehormatan maka hendaknya segera meminta maaf.

#2. Memperbanyak memohon maghfiroh dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Dan makna memohon maghfiroh:
1. Memohon supaya ditutupi dosanya dari manusia
2. Memohon supaya dosa-dosa tersebut supaya dihapus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga tidak diadzab dengan dosa yang sudah dilakukan.

Rasūlullāh Shalallāhu 'alayihi wa sallam bersabda:

ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧِّﻰ ﻷَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﺗُﻮﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﻣَﺮَّﺓً

"Demi Allah, aku beristighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan bertaubat kepadaNya di dalam sehari lebih dari 70 kali". (Hadist riwayat Bukhari)

#3. Beramal sholih
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ ﻳُﺬْﻫِﺒْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ ۚ

"Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghilangkan kejelekan-kejelekan." (Hud:114)

#4. Bersabar ketika tertimpa musibah
Rasūlullāh Shalallāhu 'alayihi wa sallam bersabda:

َ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٍ تُصِيْبُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﺇِﻟَّﺎ ﻛُﻔِّﺮَ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﻨْﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟﺸَّﻮْﻛَﺔِ ﻳُﺸَﺎﻛُﻬَﺎ

"Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa seseorang muslim kecuali Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menghapus dengan musibah tersebut dosanya sampai apabila dia terkena duri". (Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, janganlah seorang muslim berputus asa bagaimanapun besar dosa yang dia lakukan. Perbaikilah amal di sisa umur yang ada.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Alghofūrur Rohīm mengampuni dan menutupi dosa-dosa kita yang telah lalu.

Itulah yang bisa kita sampaikan.
Wassalamu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Saudaramu, Abdullāh Roy
Di kota AlMadīnah